Kelas Teknik Wawancara merupakan kelas
yang membuat jantung saya berdegup kencang ketika saya dan teman-teman diberi
kesempatan untuk melakukan praktikum. Setiap mahasiswa memiliki tiga peran,
seperti interviewer, interviewee, dan observer, yang harus diperankan dalam tiga setting, seperti pendidikan, PIO, dan klinis. Saya merasa praktikum
sangat menyenangkan karena moment ini
dapat membantu para mahasiswa/i menerapkan teori teknik wawancara yang telah
dipelajari. Selain menerapkan teori, para mahasiswa/i juga diwajibkan
berpakaian formal untuk merasakan taste
dari wawancara itu sendiri. Selain itu, saya merasa tujuan diadakannya
praktikum ini supaya para mahasiswa/i dapat mengenali passion mereka dalam setting
yang ada.
Tangan berkeringat dan jantung
berdegup kencang seraya saya memasuki ruang praktikum, dan saya berkata “I’ll
make it.” Pengalaman saya menjadi interviewer
itu sungguh mendebarkan karena saya harus dapat bertanya dan melakukan probing
tanpa melihat panduan! Hahaha. Selain itu, intonasi, kejelasan, dan kecepatan
suara saya cenderung pelan dan santai sehingga interviewee juga harus mendengarkan saya lebih teliti. Kegugupan saya
sempat membuat saya gagap dan mengulang beberapa kata dalam berperan sebagai interviewer dan interviewee. Seru!!! Bahkan menegangkan ketika berada dalam ruang
praktikum tersebut. Kesulitan saya dapatkan ketika membina rapport karena pasalnya saya bukan tipe orang yang suka basa-basi sehingga
saya cenderung salah tingkah. Peran selanjutnya, observer, hahaha, peran ini yang menurut saya santai tapi
membahayakan. Mengapa? Karena dalam ruang observasi terdapat beberapa headphone yang tidak dapat digunakan,
maka saya hanya mengobservasi perilaku yang muncul. Susah-susah gampang karena
membutuhkan ketelitian saat memperhatikan perilaku interviewer dan keuletan jari dalam menulis laporan cepat.
Berdasarkan pengalaman tersebut saya
menyimpulkan bahwa dari ketiga peran yang ada, tidak ada yang ‘enak’ atau ‘tidak
enak’ karena ketiganya membutuhkan keterampilan. Kenapa begitu? Kan interviewee nggak perlu rempong? Siapa bilang? Menjadi Interviewee juga perlu wawasan luas dan berakting sesuai dengan
kasus yang diusung untuk membantu interviewer
memperoleh data. Kemudian hal-hal diperlukan menurut saya saat memerankan atau mempraktekan
di dunia kerja adalah percaya diri, communication-skill
dan soft-skill yang baik. Ada hal penting lainnya, never stop learning and practicing!! Apa yang saya peroleh dari kelas ini baru separuh bahkan sebagian
kecil dari ilmu-ilmu yang digunakan dalam wawancara. Sehingga saya harus meng-upgrade biar ga kudet alias terus belajar dari lingkungan serta tetap rendah hati supaya dapat menerima kritik dan saran. Saya kembali mengingat
pesan guru SMA dan dosen pengampu bahwa hidup itu merupakan proses belajar yang
tiada henti. Oleh karena itu, kita dalam menjalani hidup harus tetap belajar
walaupun kita telah memperoleh gelar pendidikan tertinggi sekalipun.
Dengan berakhirnya
kelas dan blog ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu
dan asistennya serta teman-teman kelas Teknik Wawancara (C) atas kebersamaannya
selama satu semester. Saya berharap kita semua lulus mata kuliah ini dan
melanjutkan belajar di Life University
ini hingga akhir hayat.. God bless us.
~Life
is learning process over the life-span~